KOMPAS.com – Radang usus atau Inflammatory Bowel Disease ( IBD) pada anak sering kali tidak disadari sejak dini karena gejalanya mirip dengan gangguan pencernaan biasa.
Padahal, penyakit ini dapat mengganggu pertumbuhan, menghambat aktivitas, bahkan berdampak pada kualitas hidup anak.
Dengan mengenali tanda-tanda dan memahami penanganan terbaru, orangtua dapat membantu buah hati mereka tetap sehat dan aktif meski hidup dengan IBD.
Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) yang dirilis WHO pada 2019, lebih dari 88.000 anak di seluruh dunia hidup dengan IBD. Sebanyak lebih dari 25.000 kasus baru pun terjadi setiap tahunnya.
Meski jumlah kasus terus meningkat, angka kematian dan dampak berat penyakit ini cenderung menurun berkat kemajuan dalam pengobatan dan perawatan.
Dalam The 2nd Siloam Digestive Summit 2025 di The Ritz-Carlton Hotel, Kuningan, Jakarta, pada 26 Juli yang lalu. dr. Himawan Aulia Rahman, SpA(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterologi di Siloam Hospitals Kebon Jeruk menjelaskan, IBD pada anak merupakan kondisi serius yang dapat mengganggu pertumbuhan dan aktivitas sehari-hari.
“Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan yang komprehensif, anak-anak tetap memiliki peluang untuk hidup sehat dan aktif,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (12/8/2025).
Menurut dr. Himawan, diagnosis IBD pada anak harus dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi, endoskopi, tes darah, pemeriksaan feses, serta
menyingkirkan kemungkinan infeksi usus lain, seperti tifus atau tuberkulosis gastrointestinal
(TBC usus).
Pada sesi yang sama, dr. Frieda Handayani, SpA, Subsp. GH(K) menjelaskan tentang penanganan IBD.
"Penanganan IBD saat ini berfokus pada penyembuhan lapisan dinding usus yang meradang untuk mencegah kekambuhan," ujar dr. Frieda Handayan
Tata laksana IBD pada anak dapat dimulai dengan terapi nutrisi khusus, yaitu pemberian cairan bernutrisi sebagai pengganti makanan biasa selama beberapa minggu guna
meredakan peradangan.
Jika terapi nutrisi belum optimal, dokter dapat memberikan obat-obatan, seperti anti-radang,
penekan sistem imun, atau obat suntik khusus sesuai kondisi anak.
Pada kasus yang berat, misalnya jika terjadi luka atau penyempitan saluran usus, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk mendukung pemulihan.
Setelah mengetahui metode penanganan, orangtua diimbau untuk memperhatikan kesehatan
pencernaan anak.
Orangtua diharapkan tidak mengabaikan keluhan anak yang berulang, seperti nyeri perut, diare berkepanjangan, atau berat badan tidak bertambah.
Konsultasi dengan dokter sedini mungkin dapat membantu memastikan diagnosis tepat dan memulai penanganan yang sesuai.
Dengan perawatan yang optimal, anak dengan IBD tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh
sehat, bersekolah, dan menjalani aktivitas seperti anak lainnya.