Kenali Perbedaan IBS dan IBD, Gangguan Pencernaan yang Serupa tapi Tak Sama

Kompas.com - 08/08/2025, 20:23 WIB
Tsabita S. Naja,
Dwi NH

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sakit perut, kembung, dan diare sering kali dianggap sepele atau disebabkan oleh hal yang sama. Padahal, keluhan ini bisa mengarah pada dua kondisi berbeda, yaitu irritable bowel syndrome ( IBS) dan inflammatory bowel disease ( IBD).

Keduanya merupakan gangguan pencernaan yang berbeda, meski gejalanya serupa. Banyak orang menyamakan keduanya karena sama-sama menyebabkan gangguan pada saluran cerna.

Faktanya, penyebab, tingkat keparahan, dan cara penanganan IBS serta IBD tidak sama.

IBS adalah gangguan fungsi usus besar tanpa peradangan atau kerusakan jaringan, umumnya dipicu oleh stres, makanan tertentu, atau perubahan hormon. Gejalanya meliputi sakit perut, kembung, diare, atau sembelit, tetapi tanpa kerusakan organ.

Baca juga: 5 Cara Mengatasi IBS untuk Pencernaan yang Lebih Nyaman

Diperkirakan sekitar 17 persen penduduk Indonesia mengalami IBS, sehingga gangguan fungsi pencernaan ini dinilai cukup umum. IBS tidak mengancam nyawa, tetapi dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.

Sebaliknya, IBD merupakan peradangan kronis pada saluran cerna yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan usus dan terlihat jelas melalui pemeriksaan endoskopi. Penderita IBD memerlukan penanganan medis jangka panjang.

Penyakit ini mencakup crohn’s disease dan ulcerative colitis, dengan gejala seperti diare berdarah, penurunan berat badan, kelelahan kronis, dan nyeri hebat.

Secara sederhana, perbedaan utama IBS dan IBD terletak pada sifat penyakit dan dampaknya pada tubuh.

Baca juga: IBD Bisa Sembuh dengan Perawatan, Ini Kata Dokter

IBS bersifat fungsional dan jarang menimbulkan komplikasi serius, sedangkan IBD dapat berkembang menjadi masalah kesehatan berat jika tidak ditangani.

Dari sisi diagnosis, IBS biasanya dikenali dari gejala dan riwayat kesehatan pasien. Sementara itu, IBD memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti endoskopi dan tes darah.

Penting untuk diingat bahwa penderita IBD bisa memiliki gejala mirip IBS, tetapi IBS tidak akan berkembang menjadi IBD.

Baca juga: Makanan Berlemak Picu IBD, Dokter Sarankan Perbaiki Pola Makan

Perbedaan penanganan IBS dan IBD

“IBS bisa ditangani dengan baik jika kita mengenali pemicunya dan menerapkan pola hidup sehat,” ujar pakar gastroenterologi dari Asan Medical Center, Korea Selatan, Dokter (dr) Seung-Jae Myung dalam keterangan resminya, Jumat (8/8/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan Seung-Jae Myung dalam forum Siloam Digestive Summit 2025 yang diselenggarakan di Jakarta pada akhir Juli 2025.

Kunci penanganan IBS adalah memahami tubuh sendiri agar dapat menyesuaikan kebiasaan makan dan aktivitas harian untuk mengurangi gejala.

Pendekatan utama untuk menangani IBS adalah mengubah pola makan dan gaya hidup. Salah satu metode yang direkomendasikan secara global adalah diet rendah fodmap, yaitu menghindari makanan yang mudah difermentasi dalam usus, seperti bawang, apel, dan susu.

Gantilah jenis makanan tersebut dengan pilihan yang lebih ramah pencernaan, seperti jeruk, kiwi, wortel, dan pisang.

Baca juga: Manfaat Bengkuang untuk Kesehatan: Tinggi Serat, Baik untuk Jantung dan Pencernaan

Selain perubahan pola makan, penanganan IBS juga dapat dibantu dengan obat-obatan yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan gejala, sehingga terapi menjadi lebih efektif bagi setiap pasien.

Berbeda dengan IBS, penanganan IBD fokus pada pengendalian peradangan dan pencegahan kerusakan lebih lanjut.

“Kunci penanganan IBD adalah diagnosis tepat dan terapi yang komprehensif karena penyakit ini bersifat kronis dan dapat memengaruhi kualitas hidup pasien dalam jangka panjang,” ujar dr Marcellus Simadibrata dalam forum yang sama.

Ia menegaskan bahwa penanganan sejak dini akan membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.

Baca juga: Kenali Komplikasi Berat Leptospirosis, Bisa Sebabkan Kematian

Lebih lanjut, Marcellus menjelaskan, terapi IBD dapat mencakup pengaturan nutrisi, penggunaan cairan enteral khusus, pemberian obat antiinflamasi, imunosupresan, hingga obat biologis seperti infliximab.

Pada kasus IBD berat atau tidak dapat merespons obat dengan baik, tindakan operasi mungkin diperlukan.

Selain itu, pemantauan rutin oleh dokter spesialis sangat penting untuk menjaga peradangan tetap terkendali dan mencegah komplikasi.

Memahami perbedaan antara IBS dan IBD sangat penting agar bisa mendapat penanganan secara tepat sejak awal.

Baca juga: 6 Cara Menangani IBS dan Serangan Panik yang Terjadi Bersamaan

Pasalnya, gejala yang mirip belum tentu berasal dari penyebab yang sama, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan.

IBS dapat dikendalikan dengan gaya hidup sehat, sedangkan IBD memerlukan pengawasan dan terapi jangka panjang.

Untuk menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah komplikasi, segera konsultasikan dengan dokter spesialis ketika keluhan muncul. Usus sehat, kualitas hidup pun terjaga.

Copyright 2008 - 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

Bagikan artikel ini melalui
Oke